Berita Faktapagi.com hari ini

Iklan dewan

Iklan dewan

Iklan dewan

Iklan

Iklan

HANDI IDUL FITRI

HANDI IDUL FITRI

Berita Kedua 14 (7artikel)

BERITA KETIGA 21

Minggu, November 08, 2026

Henry: Bersihkan Lingkungan Untuk Hindari Penyebaran DBD

 

Henry Alpius.

SEKADAU-FAKTAPAGI.COM.Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana Henry Alpius mengingatkan agar masyarakat Sekadau selalu waspada terhadap wabah Demam Berdarah Dengue atau yang kerap disebut (DBD).
Ia menyebutkan bahwa sejak bulan September 2026, kasus Demam Berdarah Denque (DBD) sudah mulai muncul. Penyakit tersebut disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Berdasarkan data yang ada kesus DBD naik secara signifikan sejak bulan Oktober menjadi 24 kasus atau mengalami kenaikan sebesar 300 persen.

Jadi saya ingatkan agar masyarakat kabupaten Sekadau waspada terhadap wabah DBD yang mulai meningkat," katanya kepada media ini beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan berdasarkan data pasien DBD ruang anak pada bulan September terdapat 8 kasus, lalu pada bulan Oktober kasus naik menjadi 24 kasus atau naik 300 persen.Meski demikian peningkat kasus tersebut masih bisa di tangani secara maksimal dan belum di kategorikan sebagai kasus luar biasa.

"Meski kasusnya meningkat tajam tapi masih bisa di tangani dengan baik dan belum bisa dikatakan sebagai kasus luar biasa," ujarnya.

Ia meminta agar masyarakat bisa  mengenali gejala dan segera seperti demam tinggi, jika gejala ini terjadi segera memeriksakan diri ke pasilitas kesehatan terdekat.

Selain DBD masyarakat juga di minta mewaspadai penyakit chikungunya. dengan gejala antara lain mendadak demam tinggi, nyeri sendi yang lama, dan nyeri otot.

Untuk mencegah agar wabah DBD tidak menyebar, caranya cukup dengan menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah, caranya sederhana menutup tempat genangan air, pot bunga dan tidur mengunakan kelambu,
"Saya mengimbau kepada masyarakat untuk selalu membersihkan selokan, bapak air serta hindari genangan air, karena di tempat itu nyamuk bisa berkembang biak," pesannya (tar/man)

Ukiran Itiak Pulang Patang Menghias Rumah Gadang dengan Bentuk Barisan Itik Oleh: Hastri Darma Pertiwi

Ukiran Itiak Pulang Patang.
SUMATERA BARAT-FAKTAPAGI.COM.Ukiran Itiak Pulang Patang merupakan salah satu ragam hias yang dikenal dalam arsitektur Rumah Gadang Minangkabau. Motif ini mengambil gambaran barisan itik yang berjalan beriringan menuju kandang pada sore hari. Bentuknya tersusun dari pola lengkung yang berulang dan biasanya digunakan untuk mengisi bidang-bidang kecil pada bangunan Rumah Gadang.

Di berbagai Rumah Gadang di Minangkabau, penempatan ukiran tidak dilakukan secara sembarangan. Setiap bagian bangunan memiliki ragam hias yang lazim digunakan, meskipun terdapat perbedaan pada sejumlah daerah. Itiak Pulang Patang termasuk motif yang dapat ditempatkan di bagian dinding dan tepi bidang ukiran, sehingga kehadirannya kerap menyatu dengan motif lain yang lebih besar.

Bentuk Motif yang Terinspirasi dari Itik.

Nama Itiak Pulang Patang berasal dari kebiasaan itik yang berjalan berkelompok. Dalam gambaran yang menjadi dasar motif, kawanan itik bergerak melalui pematang sawah dan kembali ke kandangnya. Barisan tersebut kemudian diterjemahkan oleh pengukir Minangkabau menjadi susunan garis dan lengkungan yang berulang.

Bentuk ukiran Itiak Pulang Patang tidak dibuat menyerupai gambar itik secara utuh. Pengukir menggunakan bentuk stilisasi sehingga yang terlihat adalah pola berulang. Ciri ini sejalan dengan banyak ragam hias Minangkabau yang mengambil inspirasi dari alam, tetapi mengolahnya menjadi bentuk dekoratif pada kayu.

Alam menjadi salah satu sumber utama dalam penciptaan ukiran Minangkabau. Tumbuhan, hewan, dan berbagai bentuk yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari diolah menjadi motif pada Rumah Gadang. Itiak Pulang Patang termasuk kelompok motif yang mengambil inspirasi dari hewan, bersama sejumlah ragam hias lain yang menggunakan nama dan bentuk makhluk hidup.

Dalam adat Minangkabau dikenal ungkapan alam takambang jadi guru. Cara pandang tersebut juga dapat dilihat pada ragam hias bangunan tradisional. Kehidupan itik yang bergerak berkelompok menjadi salah satu gambaran yang kemudian diabadikan dalam bentuk ukiran.

Penempatan pada Bagian Rumah Gadang.

Itiak Pulang Patang dikenal sebagai motif pengisi bidang kecil. Pada Rumah Gadang, motif ini dapat ditemukan pada paso-paso, tangan tangga, pengapit atau les dinding, les plank, serta bagian tepi ukiran yang lebih besar.

Penempatan motif dapat berbeda sesuai bentuk dan tradisi pembangunan Rumah Gadang di suatu daerah. Dalam lingkungan anjuang Rumah Gadang, misalnya, Itiak Pulang Patang dikenal ditempatkan pada bagian paso-paso. Motif ini juga dapat muncul pada dinding atau bagian bangunan lain sebagai pengisi ruang di antara ragam hias utama.

Susunan ukiran pada Rumah Gadang biasanya terdiri atas beberapa motif yang ditempatkan berdampingan. Motif besar dapat menjadi pusat bidang, sedangkan motif seperti Itiak Pulang Patang mengisi bagian pinggir atau bidang yang lebih kecil. Karena itu, satu bangunan Rumah Gadang dapat menampilkan berbagai nama ukiran dalam satu rangkaian dekorasi.

Penempatan ragam hias juga berkaitan dengan pengetahuan para pengukir dan kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat. Tidak semua Rumah Gadang memiliki susunan ukiran yang sama. Bentuk bangunan, daerah, dan perkembangan pengerjaan dapat memengaruhi motif yang digunakan pada bagian tertentu.

Selain pada Rumah Gadang, motif Itiak Pulang Patang juga ditemukan pada benda budaya lain. Salah satunya adalah kalintuang, alat yang dipasang pada leher kerbau atau sapi. Kalintuang berbunyi ketika hewan bergerak dan membantu pemilik mengetahui keberadaan ternaknya. Bagian luar benda tersebut dapat dihiasi dengan ukiran, termasuk motif Itiak Pulang Patang.

Gambaran Kebersamaan dalam Motif Itiak Pulang Patang.

Barisan itik yang menjadi inspirasi motif ini sering dikaitkan dengan kehidupan yang teratur dan kebersamaan. Itik berjalan mengikuti kelompoknya, sehingga gambaran tersebut kemudian dikaitkan dengan nilai kesepakatan, seia sekata, dan persatuan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

Penafsiran tersebut berkaitan dengan cara masyarakat Minangkabau memandang kehidupan bersama dalam kaum dan nagari. Dalam berbagai urusan adat, musyawarah menjadi bagian penting untuk mencapai kesepakatan. Motif Itiak Pulang Patang menghadirkan gambaran kebersamaan itu melalui bentuk yang sederhana dan berulang.

Nilai keteraturan juga menjadi bagian dari penafsiran terhadap motif ini. Barisan itik yang berjalan searah menggambarkan kelompok yang memiliki tujuan bersama. Namun, ukiran pada Rumah Gadang tetap harus dipahami dalam konteks ragam hias tradisional, karena setiap motif dapat memiliki penafsiran yang berkembang dalam lingkungan budaya Minangkabau.

Penggunaan Itiak Pulang Patang juga tidak berhenti pada bangunan tradisional. Motif ini berkembang pada berbagai media, termasuk dekorasi pelaminan dan produk kerajinan. Bentuk dasarnya dapat mengalami penyesuaian sesuai bahan dan media yang digunakan, sementara susunan pola berulang tetap menjadi ciri yang mudah dikenali.

Di Rumah Gadang, Itiak Pulang Patang menjadi bagian dari keseluruhan bahasa visual yang dibentuk melalui ukiran. Motif ini mungkin hanya mengisi bidang kecil di antara ukiran yang lebih besar, tetapi bentuknya membawa gambaran yang dekat dengan kehidupan masyarakat agraris Minangkabau. Barisan itik di pematang sawah kemudian hadir kembali dalam bentuk ukiran kayu dan terus dikenal sebagai salah satu ragam hias tradisional Minangkabau (REDAKSI).

Kerajinan Kuningan Sungai Puar dan Keterampilan Mengolah Logam di Minangkabau Oleh: Mutia Fadillah

 

Kerajinan Logam adalah ketrampilan Tradisi suku Minangkabau.

SUMATERA BARAT-FAKTAPAGI.COM.Kerajinan logam menjadi salah satu bagian dari keterampilan tradisional yang pernah berkembang di sejumlah wilayah Minangkabau. Di Nagari Sungai Puar, Kabupaten Agam, kegiatan mengolah logam dikenal melalui kerajinan cor kuningan yang menghasilkan berbagai benda, termasuk alat musik talempong. Keterampilan ini memperlihatkan bagaimana bahan logam diolah dengan teknik pengecoran dan keahlian tangan yang diwariskan dalam lingkungan pengrajin.

Sungai Puar memiliki catatan panjang sebagai daerah yang berkaitan dengan pengerjaan logam. Dalam perkembangannya, perajin di wilayah ini membuat benda-benda yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan keperluan budaya. Kegiatan tersebut kemudian dikenal luas melalui produksi benda berbahan kuningan, terutama talempong yang merupakan salah satu alat musik tradisional Minangkabau.

Keberadaan kerajinan logam di Sungai Puar juga memperlihatkan hubungan antara keterampilan membuat benda dan kehidupan budaya masyarakat. Talempong, misalnya, tidak hanya membutuhkan kemampuan memainkan musik, tetapi juga keahlian khusus untuk menghasilkan bentuk dan bunyi dari logam yang telah dicor.


Kerajinan Cor Kuningan di Sungai Puar.

Kuningan merupakan bahan yang banyak digunakan dalam kerajinan logam di Sungai Puar. Pengolahan logam dilakukan melalui proses pengecoran, yakni membentuk benda dengan menggunakan cetakan sebelum logam cair dituangkan. Teknik ini membutuhkan beberapa tahapan karena bentuk akhir benda ditentukan sejak proses pembuatan cetakan.

Dalam pembuatan kerajinan tradisional, bahan logam terlebih dahulu dilebur hingga mencair. Logam cair kemudian dituangkan ke dalam cetakan yang telah disiapkan. Setelah mengalami proses pendinginan, benda hasil cor dikeluarkan dan dikerjakan kembali untuk mendapatkan bentuk yang sesuai.

Salah satu hasil kerajinan yang berkaitan erat dengan keterampilan ini adalah talempong. Alat musik pukul tersebut dikenal sebagai bagian dari kesenian Minangkabau dan secara umum berbentuk bundar dengan bagian menonjol di tengah. Pembuatan talempong menuntut ketelitian karena bentuk dan kualitas bahan berpengaruh terhadap bunyi yang dihasilkan.

Keterampilan mengolah kuningan di Sungai Puar berkembang sebagai usaha yang dijalankan oleh pengrajin secara turun-temurun. Proses pengerjaan yang masih menggunakan pengetahuan tradisional membuat keahlian para perajin memiliki peran penting dalam mempertahankan kegiatan produksi. Tidak semua tahapan dapat dilepaskan dari pengalaman karena pengrajin harus memahami cara menyiapkan cetakan, melebur logam, hingga menyelesaikan benda hasil pengecoran.

Selain menghasilkan alat musik, tradisi pengerjaan logam di Sungai Puar juga berkaitan dengan pembuatan berbagai benda untuk kebutuhan masyarakat. Dalam catatan mengenai perkembangan kerajinan logam di daerah ini, bengkel-bengkel pengolahan logam pernah menghasilkan benda untuk keperluan rumah tangga dan keperluan upacara.

Talempong dan Keterampilan Pengrajin Lokal.

Talempong menjadi salah satu benda yang memperlihatkan pertemuan antara keterampilan kriya dan kesenian Minangkabau. Alat musik ini digunakan dalam berbagai bentuk pertunjukan dan kegiatan budaya, sehingga keberadaan pengrajin talempong memiliki kaitan langsung dengan keberlangsungan alat musik tradisional tersebut.

Pembuatan talempong tidak berhenti pada tahap membentuk benda dari kuningan. Pengrajin juga perlu memperhatikan hasil akhir agar alat musik dapat digunakan sebagaimana fungsinya. Karena itu, pengalaman dalam mengolah bahan dan mengenali karakter bunyi menjadi bagian penting dari keahlian yang dimiliki pengrajin.

Di Nagari Sungai Puar, keterampilan tersebut bertahan melalui lingkungan keluarga dan kelompok pengrajin. Pengetahuan tentang proses kerja diteruskan kepada generasi berikutnya melalui praktik langsung. Cara seperti ini membuat pengalaman kerja memiliki kedudukan penting, karena keterampilan mengolah logam dipelajari melalui proses melihat, mencoba, dan mengerjakan.

Kerajinan kuningan juga menunjukkan bahwa sebuah benda budaya memiliki proses panjang sebelum digunakan dalam kehidupan masyarakat. Ketika talempong dimainkan dalam kesenian Minangkabau, terdapat pekerjaan para pengrajin logam yang mendahului proses pertunjukan tersebut. Hubungan antara pengrajin dan pelaku seni inilah yang membuat keterampilan kriya memiliki tempat tersendiri dalam kebudayaan daerah.

Keterampilan yang Menghadapi Perubahan.

Kerajinan cor kuningan di Sungai Puar mengalami pasang surut seiring perubahan kebutuhan masyarakat dan perkembangan produksi modern. Pengerjaan secara tradisional membutuhkan waktu serta keterampilan khusus, sementara jumlah generasi muda yang tertarik meneruskan pekerjaan sebagai pengrajin menjadi salah satu persoalan bagi keberlanjutan kerajinan ini.

Meski demikian, kerajinan logam tetap memiliki nilai penting sebagai bagian dari keterampilan tradisional Minangkabau. Sungai Puar memperlihatkan satu contoh nyata bagaimana pengetahuan mengolah bahan, membuat cetakan, dan menghasilkan benda dari kuningan dapat berkembang dalam kehidupan sebuah nagari.

Keberadaan para pengrajin membuat keterampilan tersebut masih dapat dilihat melalui benda-benda yang mereka hasilkan. Talempong dan produk cor kuningan lainnya membawa cerita tentang proses kerja yang berlangsung di bengkel pengrajin, dari logam yang dilebur hingga berubah menjadi benda yang memiliki fungsi dalam kehidupan masyarakat.

Bagi Sungai Puar, kerajinan kuningan tidak hanya berkaitan dengan hasil akhir berupa benda. Di dalamnya terdapat keterampilan tangan, pengetahuan tentang bahan, serta pengalaman yang diwariskan dalam lingkungan pengrajin. Selama keahlian itu masih dipraktikkan dan diteruskan, tradisi pengerjaan logam tetap menjadi bagian yang dapat dibaca dalam perjalanan kebudayaan Minangkabau (REDAKSI).

Kue Sapik Minangkabau Dibuat dengan Cetakan Jepit dan Jadi Sajian Khas Lebaran Oleh: Sasmita Zulianti

Kue sapik kuliner Rumahan.

SUMATERA BARAT-FAKTAPAGI.COM.Kue sapik merupakan salah satu penganan tradisional Minangkabau yang dikenal dengan bentuknya yang tipis, renyah, dan memiliki rasa manis gurih. Kue ini dibuat menggunakan cetakan khusus yang menjepit adonan saat dipanggang di atas api. Setelah matang, adonan segera dilipat ketika masih panas hingga membentuk segitiga atau kipas. Cara pengolahan tersebut menjadi ciri yang membedakan kue sapik dari beberapa jenis kue kering lainnya.

Di Sumatera Barat, kue sapik kerap disiapkan sebagai hidangan untuk menyambut tamu, terutama saat Hari Raya Idulfitri. Di Kabupaten Pesisir Selatan, misalnya, kue ini masih menjadi salah satu sajian Lebaran di rumah-rumah warga. Bahan pembuatannya relatif sederhana, tetapi proses memanggang dan membentuknya membutuhkan ketelitian agar hasilnya tipis, matang merata, dan tidak mudah patah.

Bahan Sederhana dengan Cetakan Khusus.

Bahan utama kue sapik terdiri atas tepung beras, telur, gula pasir, dan santan. Beberapa resep menambahkan bubuk kayu manis untuk memberikan aroma khas. Garam juga digunakan dalam jumlah secukupnya untuk menyeimbangkan rasa manis. Campuran bahan tersebut menghasilkan adonan cair yang dapat dituangkan ke permukaan cetakan.

Tepung beras berperan membentuk tekstur kue setelah dipanggang. Telur membantu menyatukan adonan, sedangkan santan memberikan rasa gurih. Takaran gula dapat disesuaikan dengan selera pembuat. Ada pula variasi yang menggunakan tepung beras hitam sehingga menghasilkan warna kue lebih gelap dibandingkan kue sapik yang dibuat dari beras putih.

Nama sapik berasal dari kata dalam bahasa Minangkabau yang berarti jepit. Penyebutan itu berkaitan langsung dengan alat dan proses pembuatannya. Cetakan kue sapik umumnya terbuat dari logam dan memiliki dua bagian yang dapat dibuka serta ditutup. Permukaan cetakan bisa memiliki pola tertentu yang akan meninggalkan motif pada kue setelah adonan matang.

Cetakan dipanaskan terlebih dahulu sebelum adonan dituangkan. Setelah adonan berada di dalamnya, kedua sisi cetakan dirapatkan agar adonan terpanggang dalam bentuk tipis. Cetakan kemudian diletakkan di atas api dan dibolak-balik supaya panas menyebar. Proses ini harus diperhatikan karena adonan yang terlalu lama terkena panas dapat berubah terlalu gelap atau gosong.

Ketika matang, kue sapik harus segera diangkat dan dibentuk selagi masih panas. Pembuat biasanya melipatnya menjadi bentuk segitiga atau menyerupai kipas. Ada pula variasi yang dibentuk memanjang. Jika dibiarkan terlalu lama setelah keluar dari cetakan, kue akan mengeras sehingga sulit dilipat tanpa patah. Karena itu, tahap pembentukan membutuhkan gerakan cepat dan hati-hati.

Kue Sapik dalam Tradisi Lebaran Masyarakat Minangkabau

Di sejumlah daerah Sumatera Barat, kue sapik menjadi salah satu penganan yang disediakan ketika keluarga menerima tamu saat Lebaran. Kue ini biasanya ditempatkan bersama aneka kue kering lainnya di atas meja ruang tamu. Bentuknya yang ringan dan teksturnya yang renyah membuatnya cocok dinikmati sambil berbincang dengan kerabat maupun tetangga yang datang bersilaturahmi.

Kebiasaan tersebut masih ditemukan di Kabupaten Pesisir Selatan. Di Nagari Koto Taratak, kue sapik menjadi salah satu hidangan yang disiapkan warga untuk menyambut tamu pada Hari Raya Idulfitri. Warga setempat juga mengenal pembuatan kue ini sebagai kebiasaan keluarga yang diwariskan melalui praktik memasak di rumah.

Bahan yang mudah ditemukan membuat kue sapik dapat diproduksi sendiri menjelang hari raya. Keluarga menyiapkan tepung beras, telur, gula, dan santan, kemudian menggunakan cetakan khusus untuk memanggang adonan. Jumlah kue yang dibuat dapat disesuaikan dengan kebutuhan rumah tangga. Sebagian keluarga juga menyiapkannya untuk dibagikan kepada kerabat.

Selain sebagai sajian Lebaran, kue sapik dapat dijumpai dalam berbagai acara keluarga dan perayaan masyarakat. Kue kering ini dapat disuguhkan bersama penganan tradisional lain sesuai kebiasaan daerah masing-masing. Namun, waktu penyajian dan penggunaannya tidak selalu sama di setiap nagari. Karena itu, kebiasaan di satu wilayah tidak dapat langsung dianggap sebagai aturan yang berlaku bagi seluruh masyarakat Minangkabau.

Kue sapik sebagai produk kuliner Rumahan.

Pembuatan kue sapik juga membuka peluang usaha bagi masyarakat yang memproduksi makanan tradisional. Kue ini dapat dijual dalam kemasan untuk kebutuhan rumah tangga, hidangan hari raya, maupun oleh-oleh. Di Kabupaten Pesisir Selatan, kue sapik masih diproduksi warga dengan cara tradisional, termasuk menggunakan cetakan dan proses pemanggangan langsung di atas api.

Dalam skala usaha rumahan, ketepatan proses menjadi hal penting. Pembuat harus menjaga kekentalan adonan, suhu cetakan, serta waktu pemanggangan. Kue yang terlalu tebal bisa menghasilkan tekstur berbeda, sedangkan pemanggangan yang kurang tepat dapat membuat warna dan kerenyahannya tidak merata. Setelah dingin, kue perlu disimpan dalam wadah tertutup agar tidak mudah melempem akibat udara lembap.

Kue sapik juga memiliki variasi bahan dan bentuk. Penggunaan tepung beras hitam menghasilkan warna yang lebih gelap, sementara tambahan kayu manis memberikan aroma yang berbeda. Bentuk lipatan dapat disesuaikan dengan kebiasaan pembuat, meskipun bentuk segitiga dan kipas cukup dikenal dalam penyajian kue ini.

Keberadaan kue sapik di meja Lebaran dan pasar kuliner memperlihatkan bahwa penganan tradisional masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat Sumatera Barat. Proses pembuatannya memang membutuhkan alat khusus dan ketelitian, tetapi bahan yang digunakan relatif mudah diperoleh. Selama keterampilan membuatnya masih dipraktikkan di rumah maupun dikembangkan sebagai usaha, kue sapik tetap dapat dinikmati oleh generasi berikutnya (REDAKSI).

Wabup : Pemuda Harus Mampu Berperan Aktif Dalam Segala Sendi Kehidupan Bernegara

 

Berfoto bersama usai acara pembukaan seminar bagi kaum muda Persekutuan Gereja-Gereja Di Indonesia (PGID) kabupaten Sekadau tahun 2026, Jumat (06/11/2026) di GKII Bethani Desa Padak kecamatan Belitang Hulu.
SEKADAU-FAKTAPAGI.COM.Wakil.Bupati Sekadau, Subandrio, S.H., M.H., menghadiri Seminar Pemuda Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Daerah (PGID) Kabupaten Sekadau Tahun 2026. Kegiatan tersebut sebagai salah satu wadah bagi kaum muda untuk meningkatkan wawasan serta pengetahuan dan memperkuat peran serta pemuda dalam kehidupan bermasyarakat, beragama, berbangsa dan bernegara. Jumat (06/11/2026) di Gereja GKII Bethani, Desa Padak, Kecamatan Belitang Hulu.

Dalam sambutannya pria asal pedalaman kecamatan Belitang Hulu mengatakan, bahwa kegiatan seminar tersebut menjadi salah satu wadah bagi generasi muda untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan, serta memperkuat peran pemuda dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

"Kehadiran saya disini sebagai bentuk dukungan Pemerintah Kabupaten Sekadau terhadap kegiatan kepemudaan, khususnya yang dilaksanakan oleh organisasi keagamaan,"katanya.

Menurut dia, seminar Pemuda PGID ini juga menjadi momentum untuk mempererat tali persaudaraan dan membangun kebersamaan antargenerasi muda lintas gereja di Kabupaten Sekadau.

Ia berharap melalui kegiatan seperti ini, para pemuda diharapkan dapat mengembangkan potensi diri, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memiliki karakter yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan zaman.

Selain itu kata dia, generasi muda diharapkan mampu mengambil bagian secara aktif dalam mendukung pembangunan daerah melalui berbagai kegiatan positif, baik di lingkungan gereja maupun di tengah masyarakat.

Seminar Pemuda PGID Kabupaten Sekadau Tahun 2026 diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para peserta, sekaligus memperkuat semangat persatuan, toleransi, dan kepedulian sosial di kalangan generasi muda.

Pemerintah Kabupaten Sekadau juga diharapkan terus bersinergi dengan organisasi kepemudaan dan keagamaan dalam membina generasi muda yang berkualitas, berintegritas, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Kabupaten Sekadau.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala RSUD Kabupaten Sekadau, Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Ketua GKII Kabupaten Sekadau, Kepala Desa Padak, para peserta seminar, serta tamu undangan lainnya(tar/man).


Subandrio: Guru Menjadi Penentu Kemajuan Daerah Kedepannya

Berfoto bersama usai acara pembukaan pelatihan kepala sekolah oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Sekadau, sebagai bekal untuk menjabat Kepala Sekolah yang berintegritas, Sabtu (08/11/2026) di Aula kantor CU Keling Kumang Desa Sungai Ringin kecamatan Sekadau Hilir.
SEKADAU-FAKTAPAGI.COM.Wakil Bupati Sekadau, Subandrio, S.H., M.H., membuka secara resmi kegiatan Pelatihan kepada 91 orang Bakal Calon Kepala Sekolah Tahun 2026. Kegiatan tersebut sebagai upaya mempersiapkan calon kepala sekolah yang profesional, kompeten, berintegritas, serta memiliki kemampuan kepemimpinan dan manajerial dalam mengelola satuan pendidikan, Sabtu (07/11/2026) di Aula Kantor CU Keling Kumang Desa Sungai Ringin kecamatan Sekadau.

Dalam sambutannya pada acara pembukaan Wakil Bupati Sekadau, Subandrio, menegaskan bahwa pendidikan merupakan salah satu prioritas utama Pemerintah Kabupaten Sekadau dalam mewujudkan visi daerah yang unggul, sejahtera, dan bermartabat.

Menurut dia, kemajuan daerah sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia serta dukungan infrastruktur pendidikan yang memadai. Karena itu, pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan kualitas tenaga pendidik, mengurangi angka putus sekolah, memberantas buta aksara, dan memperbaiki fasilitas pendidikan.

Ia berpesan agar para calon kepala sekolah menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan profesionalisme. 

"Kepala sekolah diharapkan mampu membangun komunikasi dengan orang tua murid untuk memastikan anak-anak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya,"pesannya.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya pengelolaan dana pendidikan sesuai peraturan dan petunjuk teknis yang berlaku, terlebih berbagai program pemerintah pusat kini semakin banyak disalurkan langsung ke sekolah.

Ia berharap melalui pelatihan ini, seluruh peserta dapat meningkatkan wawasan, kompetensi, pola pikir, pengalaman, dan karakter kepemimpinan.

“Seorang kepala sekolah tidak hanya bertugas mengelola sekolah, tetapi juga harus mampu menjadi pemimpin, membina karakter peserta didik, serta bertanggung jawab terhadap kemajuan pendidikan,” ucapnya.

Melalui pelatihan ini Pemerintah Kabupaten Sekadau berharap dapat melahirkan calon kepala sekolah yang berkualitas dan mampu membawa perubahan positif bagi dunia pendidikan di Kabupaten Sekadau.

Sementara itu ditempat yang dama kepala BGTK Provinsi Kalimantan Barat, Eko, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Sekadau, khususnya Wakil Bupati dan Dinas Pendidikan, atas komitmen mendukung peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia di bidang pendidikan.

Ia berharap seluruh peserta mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh, aktif berkolaborasi, berbagi pengalaman,serta menyerap ilmu dari para narasumber dan fasilitator.

Menurutnya, kepala sekolah bukan sekedar pemimpin administratif, tetapi harus menjadi pemimpin pembelajaran yang memiliki integritas, transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, serta mampu menjadi teladan bagi guru dan peserta didik.

Sementara itu dalam laporannya,kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sekadau, Fran Dawal, S.E., M.A.P., menyampaikan bahwa pelatihan tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 7 Tahun 2025 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah.

Pelatihan diikuti sebanyak 91 peserta yang terdiri dari satu orang guru TK, 60 orang guru SD, dan 30 orang guru SMP.

Kegiatan berlangsung selama 10 hari, mulai 6 hingga 16 November 2026. Pelaksanaan dibagi menjadi dua lokasi, yakni Kantor CU Keling Kumang untuk peserta jenjang TK dan SD, serta Hotel Vinca Borneo untuk peserta jenjang SMP.

Tenaga pengajar dalam kegiatan ini berasal dari Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) serta Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Kalimantan Barat. 

Anggaran kegiatan bersumber dari  Anggaran (DPA) Dinas Pendidikan dan kebudayaan Kabupaten Sekadau tahun anggaran 2026 (tar/man).


Sabtu, November 07, 2026

Kondisi Cuaca Berubah, Yemi : Kami Sudah Siapkan Posko.

 

Yemi Ibrahim.
SEKADAU-FAKTAPAGI.COM. Kepala Desa Seberang Kapuas Yemi Ibrahim mengingatkan agar warga Desa-nya yang berada di bantaran Sungai Kapuas dan Sungai Sekadau untuk selalu waspada dengan kondisi cuaca saat ini, karena begitu habis kemarau panjang tiba-tiba datang musim hujan."Maka bencana banjir dan tanah longsor sangat rentan terjadi," katanya kepada media ini beberapa waktu lalu.

Dirinya sudah mempersiapkan posko pengungsian apabila bencana datang.

"Kami sudah siapkan posko pengungsian yang aman bagi warga yang terdampak apabila banjir datang," ucapnya.

Menurut dia, meskipun curah hujan belum begitu tinggi dengan intensitas rendah, namun kita tidak boleh lengah, karena dalam hitungan jam curah hujan bisa berubah dengan intensitas sangat tinggi. "Bersiaplah sebelum hal seperti itu terjadi," ujarnya.

Ia menyarankan kepada kepala Dusun yang warganya berada di bantaran sungai dari sekarang mempersiapkan posko pengungsian darurat jika sewaktu-waktu terjadi banjir baik pada malam hari maupun siang.

"Yang paling repot apabila banjir datang pada waktu malam hari, disaat kita sedang tidur pulas," katanya.

Jadi kalau posko sudah ada, warga tingal datang walaupun banjirnya datang padamalam hari.

Selain itu ia juga mengingatkan, kepada masyarakat agar tidak terpancing dengan kondisi politik saat ını, apalagi banyak hasutan dan provokasi di medsos saat ını, sebagai masyarakat cerdas ia meminta agar warga bisa menyeleksi informasi yang beredar,  tujuannya agar tidak terpancing dengan segala berita hoax.

"Mari jaga situasi agar tetap kondusif, fokus saja bekerja untuk menghidupi keluarga kita masing-masing," pesannya(tar/man).


Demi Tingkatan PAD, Bupati Rela Temui Satu Persatu Owner Perusahaan Yang Kurang Bayar PBB Dan BPHTB

 

Aron, SH.
SEKADAU-FAKTAPAGI.COM. Usai memimpin rapat dengan pihak perusahaan terkait kurang bayar Pajak Bumi Dan Bangunan (PBB) dan Biaya Peralihan Hak Atas Tanah (BPHTB) sejumlah Perusahaan. Agar bisa mendapatkan jawaban yang pasti Bupati Sekadau langsung mengintruksikan kepada Asisten III dan Asisten II untuk menghubungi owners perusahaan yang kurang bayar tersebut, untuk bertemu dengan tim dari kabupaten Sekadau, karena waktu yang diberikan oleh Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) RI hanya 60 hari kerja untuk mendapatkan jawaban dari pihak perusahaan.

Benar saja beberapa hari lalu Bupati bersama tim langsung menuju Jakarta demi berkomunikasi dengan pemilik perusahaan terkait rekomendasi BPK RI.

Sulitnya untuk mencari Pendapatan Asli Daerah (PAD) di saat Pemerintahan Pusat (Pempus) melakukan efisiensi besar-besaran terhadap anggaran Daerah. Efesiensi yang dilakukan Pempus membuat banyak Daerah kesulitan fiskal untuk membiayai pembangunan, agar bisa berdiri dikaki sendiri BPK RI mencoba membantu Daerah agar bisa membiayai diri dengan perolehan PAD dari pajak. 

Dari hasil pemeriksaan tersebut ditemukan beberapa perusahaan yang kurang bayar PBB dan BPHTB.

Agar bisa menambah fiskal Daerah Bupati harus menagih beberapa perusahaan yang kurang bayar PBB dan BPHTB sesuai rekomendasi dari BPK RI.

"Kami hanya menjalankan rekomendasi BPK RI terkait hasil audit potensi PAD terhadap beberapa perusahaan yang kurang bayar PBB dan BPHTB," katanya saat membuka rapat tersebut.

Ia menegaskan, kita rapat disini bukan untuk berdebat, yang kita perlu adalah hasil akhir terkait temuan tersebut, karena jika tidak bayar ada konsekuensi hukum yang harus diterima. 

Menurut dia, hasil temuan tersebut adalah audit selama satu bulan oleh BPK RI,.waktu melakukan audit BPK pasti sudah berkomunikasi dengan pihak terkait ada kurang bayar, sehingga BPK memberikan waktu kepada pemerintah Daerah dan perusahaan selama 60 hari kerja untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan baik. Jika ada sangahan dari pihak perusahaan silahkan asal mampu meyakinkan BPK, karena ını tanahnya mereka bukan Pemda Sekadau.

"Karena sekarang bukan waktunya untuk berdebat, tapi mencari solusi yang baik," sarannya.

Ia juga menyarankan kepada beberapa pihak perusahaan yang memiliki kebun plasma agar melakukan pemisahan kapan perusahaan melakukan konversi terhadap plasma dan berapa sisa kebun inti yang sekarang masih di kelola oleh perusahaan. Tujuannya adalah supaya ada kejelasan tanggungjawab pembayaran PBB tahun berapa jadi tanggungjawab perusahaan dan tahun berapa menjadi tanggungjawab petani.

"Semuanya harusnya jelas secara administratif maupun dilapangan," pesannya (tar/man).

Kondisi Cuaca Berubah, Wabup Ingatkan Waspada Banjir dan Tanah Longsor

 

Subandrio, SH.MH.
SEKADAU-FAKTAPAGI.COM. Wakil Bupati Sekadau Subandrio, SH.MH kembali mengingatkan agar masyarakat yang berada di bantaran Sungai Kapuas dan Sungai Sekadau untuk selalu waspada dengan kondisi cuaca saat ini, karena begitu habis kemarau panjang tiba-tiba datang musim hujan."Maka bencana banjir dan tanah longsor sangat rentan terjadi," katanya kepada media ini kemarin.

Menurut dia, meskipun curah hujan belum begitu tinggi dengan intensitas rendah, namun kita tidak boleh lengah, karena dalam hitungan jam curah hujan bisa berubah dengan intensitas sangat tinggi. "Bersiaplah sebelum hal seperti itu terjadi," ujarnya.

Ia menyarankan kepada kepala Desa yang warganya berada di bantaran sungai dari sekarang mempersiapkan posko pengungsian darurat jika sewaktu-waktu terjadi banjir baik pada malam hari maupun siang.

"Yang paling repot apabila banjir datang pada waktu malam hari, disaat kita sedang tidur pulas," katanya.

Jadi kalau posko sudah ada, warga tingal datang walaupun banjirnya datang pada malam hari.

Selain itu ia juga mengingatkan, kepada masyarakat agar tidak terpancing dengan kondisi politik saat ını, apalagi banyak hasutan dan provokasi di medsos saat ını, sebagai masyarakat cerdas ia meminta agar warga bisa menyeleksi informasi yang beredar,  tujuannya agar tidak terpancing dengan segala berita hoax.

"Mari jaga situasi agar tetap kondusif, fokus saja bekerja untuk menghidupi keluarga kita masing-masing," pesannya(tar/man).


Jumat, November 06, 2026

Bupati Ingatkan, Jangan Terprovokasi Dengan Situasi Politik Saat Inı

 

Aron, SH.
SEKADAU-FAKTAPAGI.COM. Bupati Sekadau Aron, SH mengingatkan agar masyarakat tidak terpecah dengan keadaan dan situasi saat ını, meksipun ada hal yang cukup menghebohkan di negeri ını, namun sebagai masyarakat kita harus mendukung Pemerintah yang sah. Karena, jika kita ikut memprovokasi situasi ini jadi runyam dapat menggangu perekonomian kita.

"Fokus bekerja penuhi ekonomi keluarga, jangan terpancing dengan situasi politik sekarang dan berita yang beredar di medsos," katanya kepada media ini beberapa waktu lalu.

Ambil segi positifnya saja, karena jika terprovokasi berita medsos negara ını bisa kacau balau, kita melihat secara jernih jangan melihat dari kacamata politik, karena jika pakai kacamata politik A bisa jadi B, maka dari itu jangan terpancing dengan situasi saat ını.

Selain itu ia juga meminta waspada dengan keadaan cuaca yang sudah berubah, suatu saat bisa terjadi hujan lebat dibarengi tanah longsor, jadi kita tetap waspada apalagi warga yang tinggal di bantaran sungai Kapuas dan Sekadau.

"Saya minta pihak Desa yang warganya banyak tingal di bantaran sungai harus sudah menyiapkan posko pengungsi, apabila sewaktu-waktu banjir datang," ingatnya (tar/man).