Meskipun Titik Hotspot Berkurang, Kesiagaan Damkar Tetap 24 Jam
![]() |
| Eko Sulistyo dan Frans Undun. |
SEKADAU-FAKTAPAGI.COM.Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Sekadau mulai menunjukkan penurunan bahkan titik Hotspot beberapa hari kemarin pernah nihil. Meskipun demikian, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Sekadau tetap menyiagakan personel selama 24 jam hingga musim kemarau berakhir.
"Berdasarkan informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sekadau, jumlah titik panas atau hotspot yang sebelumnya terpantau mulai berkurang," kata Eko Sulistyo kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan kabupaten Sekadau belum lama ını.
Bahkan kata dia,saat ini hampir tidak ditemukan titik panas yang dinilai membahayakan. Akan tetapi,kondisi ını tidak membuat petugas lengah. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di wilayah Indonesia bagian barat diperkirakan masih berlangsung hingga akhir September 2026.
Dikatakan dia lagi, bahwa kesiapsiagaan petugas tetap dilakukan selama 24 jam. Begitu kita mendapatkan informasi dari masyarakat tentang kejadian kebakaran hutan dan lahan,mau tidak mau kita harus selalu siap untuk turun ke lapangan.
Risiko tersebut juga bertepatan dengan aktivitas masyarakat yang mulai melakukan kegiatan berkebun dan berladang.
Karena itu, masyarakat, khususnya petani dan peladang, diimbau untuk sementara menghindari pembakaran dalam proses pembukaan lahan.
"Harapan kita udara di Kabupaten Sekadau ini bisa menjadi lebih baik dan tidak menimbulkan efek penyakit ISPA bagi masyarakat," katanya.
Dalam penanganan karhutla, Damkar Sekadau tidak bekerja sendiri. Petugas berkoordinasi dengan BPBD, TNI, Polri, pemerintah kecamatan dan desa, masyarakat, hingga perusahaan.
Koordinasi dilakukan untuk memantau perkembangan hotspot sekaligus mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran.
Meski demikian, penanganan karhutla masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Salah satunya terjadi di Tiga Kecamatan Belitang.
Karena akses menuju wilayah tersebut menjadi tantangan karena petugas harus menyeberangi sungai. Pendangkalan sungai juga membuat mobilisasi kendaraan dan peralatan pemadam menuju lokasi kebakaran menjadi lebih sulit.
Selain persoalan akses, ketersediaan sumber air turut menjadi kendala dalam proses pemadaman.
Petugas akan mengerahkan kendaraan pemadam apabila lokasi kebakaran masih dapat dijangkau. Tim juga mencari sumber air terdekat untuk mendukung proses pemadaman.
Untuk memastikan pelayanan tetap berjalan, Damkar Sekadau memiliki sekitar 21 personel yang dibagi dalam tiga sif.
Setiap sif terdiri atas tujuh petugas. Mereka tetap disiagakan untuk menangani berbagai kejadian kebakaran, baik kebakaran permukiman maupun karhutla.
Damkar Sekadau juga menyiapkan dua unit kendaraan operasional, yakni L300 dan Strada. Kedua kendaraan tersebut dilengkapi dengan peralatan penyedot air untuk mendukung proses pemadaman.
Meskipun kondisi kabut asap mulai berkurang dan Karhutla semakin terkendali, masyarakat tetap diminta tidak lengah.
"Pencegahan dinilai menjadi langkah penting agar kebakaran tidak kembali meluas dan kualitas udara di Kabupaten Sekadau tidak memburuk selama sisa musim kemarau," katanya (tar/man).









