Berita Faktapagi.com hari ini

Iklan dewan

Iklan dewan

Iklan dewan

Iklan

Iklan

HANDI IDUL FITRI

HANDI IDUL FITRI

Berita Kedua 14 (7artikel)

BERITA KETIGA 21

Sabtu, November 07, 2026

Kondisi Cuaca Berubah, Wabup Ingatkan Waspada Banjir dan Tanah Longsor

 

SEKADAU-FAKTAPAGI.COM. Wakil Bupati Sekadau Subandrio, SH.MH kembali mengingatkan agar masyarakat yang berada di bantaran Sungai Kapuas dan Sungai Sekadau untuk selalu waspada dengan kondisi cuaca saat ini, karena begitu habis kemarau panjang tiba-tiba datang musim hujan."Maka bencana banjir dan tanah longsor sangat rentan terjadi," katanya kepada media ini kemarin.

Menurut dia, meskipun curah hujan belum begitu tinggi dengan intensitas rendah, namun kita tidak boleh lengah, karena dalam hitungan jam curah hujan bisa berubah dengan intensitas sangat tinggi. "Bersiaplah sebelum hal seperti itu terjadi," ujarnya.

Ia menyarankan kepada kepala Desa yang warganya berada di bantaran sungai dari sekarang mempersiapkan posko pengungsian darurat jika sewaktu-waktu terjadi banjir baik pada malam hari maupun siang.

"Yang paling repot apabila banjir datang pada waktu malam hari, disaat kita sedang tidur pulas," katanya.

Jadi kalau posko sudah, warga tingal datang walaupun banjirnya datang pad malam hari.

Selain itu ia juga mengingatkan, kepada masyarakat agar tidak terpancing dengan kondisi politik saat ını, apalagi banyak hasutan dan provokasi di medsos saat ını, sebagai masyarakat cerdas ia meminta agar warga bisa menyeleksi informasi yang beredar,  tujuannya agar tidak terpancing dengan segala berita hoax.

"Mari jaga situasi agar tetap kondusif, fokus saja bekerja untuk menghidupi keluarga kita masing-masing," pesannya(tar/man).


Jumat, November 06, 2026

Bupati Ingatkan, Jangan Terprovokasi Dengan Situasi Politik Saat Inı

 

Aron, SH.
SEKADAU-FAKTAPAGI.COM. Bupati Sekadau Aron, SH mengingatkan agar masyarakat tidak terpecah dengan keadaan dan situasi saat ını, meksipun ada hal yang cukup menghebohkan di negeri ını, namun sebagai masyarakat kita harus mendukung Pemerintah yang sah. Karena, jika kita ikut memprovokasi situasi ini jadi runyam dapat menggangu perekonomian kita.

"Fokus bekerja penuhi ekonomi keluarga, jangan terpancing dengan situasi politik sekarang dan berita yang beredar di medsos," katanya kepada media ini beberapa waktu lalu.

Ambil segi positifnya saja, karena jika terprovokasi berita medsos negara ını bisa kacau balau, kita melihat secara jernih jangan melihat dari kacamata politik, karena jika pakai kacamata politik A bisa jadi B, maka dari itu jangan terpancing dengan situasi saat ını.

Selain itu ia juga meminta waspada dengan keadaan cuaca yang sudah berubah, suatu saat bisa terjadi hujan lebat dibarengi tanah longsor, jadi kita tetap waspada apalagi warga yang tinggal di bantaran sungai Kapuas dan Sekadau.

"Saya minta pihak Desa yang warganya banyak tingal di bantaran sungai harus sudah menyiapkan posko pengungsi, apabila sewaktu-waktu banjir datang," ingatnya (tar/man).





Manjalang Mintuo, Kunjungan Menantu yang Menguatkan Hubungan Keluarga Minangkabau Oleh: Hastri Darma Pertiwi

 

Manjalang Mintuo tradisi kehidupan keluarga suku Minangkabau.
SUMATERA BARAT-FAKTAPAGI.COM.Manjalang Mintuo merupakan salah satu tradisi yang dikenal dalam kehidupan keluarga masyarakat Minangkabau. Secara sederhana, tradisi ini berupa kunjungan menantu perempuan atau anak daro ke rumah keluarga suaminya. Kunjungan tersebut dapat dilakukan setelah rangkaian baralek selesai, sementara di sejumlah daerah Manjalang Mintuo juga dilaksanakan pada bulan Ramadan atau Hari Raya Idulfitri. Tradisi ini mempertemukan dua lingkungan keluarga yang sebelumnya dihubungkan melalui perkawinan.

Dalam adat perkawinan Minangkabau, perkawinan tidak hanya berkaitan dengan hubungan antara anak daro dan marapulai. Dua keluarga besar juga mulai membangun hubungan baru setelah pernikahan berlangsung. Manjalang Mintuo menjadi salah satu kesempatan bagi anak daro untuk datang ke lingkungan keluarga suami dan menjalin kedekatan dengan mertua serta sanak saudara pihak marapulai.

Pelaksanaan tradisi ini memiliki variasi di berbagai daerah. Karena itu, bentuk Manjalang Mintuo di satu nagari tidak selalu sama dengan kebiasaan masyarakat di nagari lain. Perbedaan dapat terlihat pada waktu pelaksanaan, jenis makanan yang dibawa, hingga rangkaian kunjungan yang dilakukan keluarga.

Kunjungan Anak Daro ke Rumah Mertua.

Manjalang Mintuo dikenal sebagai bagian dari rangkaian adat setelah perkawinan di sejumlah daerah Minangkabau. Di Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman, misalnya, Manjalang Mintuo tercatat sebagai salah satu tahapan setelah pelaksanaan perkawinan, bersama kegiatan lain seperti manduo kali atau kunjungan berikutnya.

Setelah acara baralek, anak daro dapat datang bersama keluarga atau kerabat dekat menuju rumah keluarga marapulai. Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi kedua belah pihak untuk saling mengenal lebih dekat. Bagi pengantin perempuan, pertemuan dengan keluarga suami juga menjadi bagian dari awal kehidupan rumah tangga yang telah dibangun setelah akad dan pesta perkawinan.

Di beberapa tempat, kunjungan Manjalang Mintuo dilakukan sehari atau beberapa hari setelah baralek. Ada pula masyarakat yang melaksanakan tradisi serupa pada waktu tertentu dalam kalender keagamaan. Perbedaan waktu ini menunjukkan bahwa adat perkawinan Minangkabau memiliki praktik yang berkembang sesuai dengan kebiasaan masyarakat di masing-masing daerah.

Di Nagari Padang Alai Bodi, salah satu bentuk kunjungan setelah perkawinan juga dikenal dengan sebutan manjalang kadudukan. Anak daro datang menemui keluarga mertua dengan membawa dulang berisi makanan. Kebiasaan setempat memiliki tata cara tersendiri, sehingga pelaksanaannya tidak dapat disamakan dengan bentuk Manjalang Mintuo di daerah lain.

Makanan sebagai Bawaan dalam Manjalang Mintuo.

Membawa makanan merupakan salah satu kebiasaan yang sering menyertai Manjalang Mintuo. Jenis makanan yang disiapkan dapat berbeda sesuai dengan daerah dan kemampuan keluarga. Dalam catatan kebudayaan Minangkabau, makanan adat seperti ayam singgang, nasi kuning, pinyaram, kue, dan lauk-pauk dapat menjadi bagian dari bawaan ketika keluarga mendatangi rumah mertua.

Makanan tersebut biasanya disusun dalam wadah yang sesuai dengan kebiasaan setempat. Talam, dulang, atau rantang dapat digunakan untuk membawa hidangan. Dalam beberapa pelaksanaan, makanan yang dibawa kemudian disajikan dan dinikmati bersama oleh keluarga anak daro dan keluarga marapulai.

Lamang dan tapai juga dikenal dalam kaitannya dengan tradisi kunjungan menantu kepada mertua di Minangkabau. Lamang dibuat dari beras ketan dan santan yang dimasak dalam bambu, sedangkan tapai ketan menjadi pasangan makanan yang kerap disajikan bersamanya. Namun, jenis makanan dalam Manjalang Mintuo tetap dapat berbeda menurut daerah dan kebiasaan keluarga.

Di Kabupaten Agam, Manjalang Mintuo pada Hari Raya Idulfitri juga dikenal sebagai kunjungan menantu perempuan dengan membawa makanan ke rumah mertua. Hidangan yang dibawa dapat berupa rendang, kalio ayam, ikan, sambal, dan aneka kue. Makanan itu kemudian menjadi bagian dari pertemuan keluarga pada hari raya.

Kegiatan membawa makanan dalam Manjalang Mintuo memiliki fungsi sosial yang mudah terlihat. Persiapan dilakukan sebelum kunjungan, lalu makanan dibawa untuk disajikan dalam pertemuan keluarga. Proses tersebut membuat kunjungan ke rumah mertua tidak berlangsung sebagai pertemuan singkat, melainkan menjadi kesempatan untuk berkumpul dan berbagi hidangan.

Hubungan Kekerabatan dalam Tradisi Manjalang Mintuo

Kehidupan masyarakat Minangkabau mengenal sistem kekerabatan matrilineal, dengan garis keturunan yang ditarik melalui pihak ibu. Namun, perkawinan tetap mempertemukan dua kelompok keluarga yang memiliki hubungan sosial masing-masing. Dalam kehidupan rumah tangga, hubungan seorang perempuan dengan keluarga suami juga menjadi bagian dari pergaulan keluarga yang perlu dibangun dengan baik.

Manjalang Mintuo memberikan ruang untuk memperkuat hubungan tersebut. Anak daro datang ke rumah keluarga marapulai, sementara keluarga suami menerima kunjungan tersebut dalam suasana kekeluargaan. Pertemuan ini juga membuka kesempatan bagi kerabat dari kedua belah pihak untuk saling mengenal.

Tradisi ini tidak hanya dikenal setelah perkawinan. Di sejumlah daerah, Manjalang Mintuo juga dilakukan menjelang Ramadan dan pada Hari Raya Idulfitri. Di Nagari Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya, misalnya, kebiasaan mengunjungi mertua dilakukan dalam rangka menyambut bulan Ramadan dan juga dikenal pada saat Lebaran.

Pelaksanaan di Dharmasraya memperlihatkan bahwa inti Manjalang Mintuo tetap berkaitan dengan silaturahmi dan penghormatan kepada orang tua atau mertua. Bawaan makanan dapat menjadi pelengkap dalam kunjungan, tetapi bentuk dan kelengkapannya tidak selalu sama di setiap tempat. Jarak tempat tinggal, kondisi keluarga, serta kebiasaan nagari dapat memengaruhi cara masyarakat menjalankannya.

Manjalang Mintuo kemudian tetap menarik untuk dilihat sebagai bagian dari hubungan keluarga dalam budaya Minangkabau. Tradisi ini memperlihatkan bahwa setelah baralek selesai, hubungan antara dua keluarga masih terus dibangun melalui kunjungan dan pertemuan. Di tengah beragamnya tata cara di setiap daerah, kunjungan anak daro kepada mertua tetap memiliki tempat sebagai salah satu cara masyarakat mempererat hubungan kekerabatan(REDAKSI).

Manatiang dalam Jamuan Adat Minangkabau, Ketangkasan Membawa Hidangan untuk Menghormati Tamu Oleh: Mutia Fadillah

 

Manatiang cara menyajikan makan dalam jamuan masyarakat adat Minangkabau.

SUMATERA BARAT-FAKTAPAGI.COM. Manatiang merupakan salah satu cara menyajikan makanan yang dikenal dalam tradisi jamuan masyarakat Minangkabau. Dalam berbagai kegiatan adat, terutama ketika banyak tamu hadir untuk makan bersama, orang yang bertugas membawa hidangan harus bekerja cepat dan cermat agar makanan dapat tersaji dengan baik. Keterampilan manatiang juga dikenal luas melalui cara pramusaji rumah makan Padang membawa sejumlah piring lauk sekaligus dengan kedua tangan.

Dalam konteks alek adat, manatiang berkaitan dengan tata cara menjamu tamu. Hidangan dibawa dari tempat penyediaan makanan menuju ruang jamuan, lalu diletakkan di hadapan tamu sesuai dengan susunan makan yang berlaku di tempat tersebut. Karena adat Minangkabau memiliki praktik yang beragam antardaerah, pelaksanaan dan orang yang menjalankan tugas manatiang dapat berbeda menurut kebiasaan masyarakat setempat.

Manatiang dalam Alek dan Jamuan Adat.

Manatiang hadir dalam berbagai kegiatan yang melibatkan jamuan makan, termasuk baralek dan kegiatan adat lainnya. Tradisi ini berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Minangkabau yang menempatkan jamuan sebagai bagian penting dalam menerima dan menghormati tamu. Ketangkasan membawa makanan diperlukan ketika banyak piring harus dihidangkan dalam waktu yang relatif singkat.

Di sejumlah kegiatan makan bersama, manatiang juga berkaitan dengan tradisi makan bajamba. Para tamu duduk bersama dan hidangan disiapkan untuk disantap secara berkelompok. Dalam suasana seperti ini, tugas membawa dan menata makanan membutuhkan perhatian terhadap kelancaran jamuan serta tata cara yang berlaku.

Orang yang menjalankan tugas tersebut dikenal dengan sebutan tatiang dalam penggunaan tertentu. Keterampilan membawa beberapa piring sekaligus membuat pekerjaan ini terlihat seperti sebuah pertunjukan ketangkasan. Namun, tujuan utamanya tetap berkaitan dengan pelayanan makanan. Hidangan perlu sampai kepada tamu dengan cepat dan tersusun dengan baik.

Dalam beberapa praktik adat di Minangkabau, penyajian makanan juga mengikuti kedudukan dan susunan tamu yang hadir. Karena itu, manatiang tidak dapat dipisahkan begitu saja dari tata krama dalam sebuah jamuan. Cara membawa dan meletakkan piring menjadi bagian dari pekerjaan yang dilakukan dengan hati-hati.

Ketangkasan Membawa Piring.

Manatiang piriang menjadi bentuk manatiang yang paling mudah dikenali masyarakat luas. Seorang pramusaji dapat membawa banyak piring berisi lauk tanpa menggunakan nampan. Piring-piring tersebut ditumpuk dan ditopang dengan kedua tangan sebelum dibawa menuju meja makan.

Keterampilan ini membutuhkan keseimbangan dan latihan. Kesalahan kecil dapat membuat susunan piring bergeser, sehingga orang yang melakukan manatiang harus mampu menjaga posisi tangan dan tubuh sambil tetap bergerak. Kemampuan tersebut kemudian menjadi salah satu ciri yang sering ditampilkan dalam pelayanan rumah makan Padang.

Meski demikian, manatiang dalam lingkungan adat memiliki hubungan yang lebih luas dengan kegiatan menjamu. Pada jamuan makan, kecepatan menyajikan hidangan merupakan bagian dari upaya tuan rumah memberikan pelayanan kepada orang yang datang. Tamu tidak dibiarkan menunggu terlalu lama, sementara makanan harus tersedia dalam keadaan siap disantap.

Penggunaan tangan kanan ketika menyajikan makanan juga berkaitan dengan sopan santun dalam pelayanan. Hal-hal seperti ini memperlihatkan bahwa pekerjaan membawa makanan dalam sebuah jamuan memiliki aturan dan etika yang diperhatikan oleh masyarakat.

Peran Manatiang dalam Makan Bersama

Tradisi makan bersama dalam masyarakat Minangkabau memiliki beberapa bentuk dan tata cara yang berbeda menurut daerah dan jenis acaranya. Dalam makan bajamba, misalnya, kegiatan makan berlangsung dalam kelompok dengan hidangan yang telah disiapkan untuk para peserta. Manatiang membantu memastikan makanan tersedia di tempat jamuan sebelum atau selama kegiatan berlangsung.

Kegiatan ini juga menunjukkan adanya pembagian peran dalam sebuah alek. Ada pihak yang menyiapkan makanan, mengatur kebutuhan jamuan, menerima tamu, hingga membawa hidangan ke tempat makan. Manatiang menjadi salah satu pekerjaan yang menghubungkan dapur dan ruang tempat para tamu berkumpul.

Di beberapa daerah, tugas manatiang dilakukan oleh kelompok tertentu sesuai kebiasaan setempat. Karena itu, tradisi ini tidak selalu dapat digambarkan dengan satu aturan yang berlaku untuk seluruh Minangkabau. Perbedaan antara nagari dan daerah merupakan bagian dari keragaman pelaksanaan adat di Sumatera Barat.

Hingga kini, gambaran manatiang masih dapat ditemukan dalam pelayanan rumah makan Padang maupun pada kegiatan adat tertentu. Ketika seorang pelayan membawa banyak piring dengan gerakan cepat dan tetap menjaga keseimbangan, keterampilan itu mengingatkan pada cara masyarakat Minangkabau menempatkan pelayanan jamuan sebagai pekerjaan yang membutuhkan kecakapan.

Manatiang akhirnya memperlihatkan satu bagian menarik dari budaya jamuan Minangkabau. Dari piring yang dibawa hingga cara makanan diletakkan di hadapan tamu, terdapat ketelitian dan tata krama yang menyertai proses tersebut. Dalam sebuah alek, pekerjaan yang tampak sederhana ini ikut membantu menjaga kelancaran jamuan dan hubungan baik antara tuan rumah dengan orang-orang yang hadir (REDAKSI).

Masjid Raya Rao-Rao Memadukan Arsitektur Minangkabau dengan Pengaruh Timur Tengah dan Eropa Oleh: Sasmita Zulianti

 

Masjid Raya Rao-Rao dengan tiga gaya perpaduan arsitektur.

SUMATERA BARAT -FAKTAPAGI.COM.Masjid Raya Rao-Rao di Nagari Rao-Rao, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, memiliki bentuk bangunan yang berbeda dari masjid berkubah besar yang banyak dijumpai saat ini. Bangunan ini memperlihatkan perpaduan unsur arsitektur Minangkabau dengan pengaruh dari Timur Tengah dan Eropa. Bentuk atap bertingkat, ornamen pada bangunan, serta penggunaan sejumlah elemen arsitektur asing membuat masjid ini menjadi salah satu bangunan bersejarah yang menarik di Tanah Datar.

Masjid tersebut berada di lingkungan permukiman masyarakat Nagari Rao-Rao. Keberadaannya berkaitan dengan perkembangan Islam dan kehidupan sosial masyarakat setempat. Selain digunakan untuk salat berjamaah, masjid menjadi tempat berlangsungnya kegiatan keagamaan, pengajian, dan pertemuan warga.

Pembangunan Masjid Raya Rao-Rao berlangsung pada awal abad ke-20. Sejumlah catatan sejarah menyebut pembangunan masjid dimulai pada 1908 dan selesai sekitar 1918. Proses pembangunannya melibatkan masyarakat setempat serta memperlihatkan keterbukaan terhadap pengetahuan arsitektur yang berkembang pada masa itu. Bangunan ini kemudian menjadi salah satu penanda perkembangan kehidupan Islam di kawasan Sungai Tarab.

Atap Bertingkat dan Bentuk Arsitektur Lokal

Salah satu bagian yang mudah dikenali dari Masjid Raya Rao-Rao adalah bentuk atapnya. Bangunan ini menggunakan susunan atap bertingkat yang mengingatkan pada bentuk atap bangunan tradisional Minangkabau. Susunan tersebut berbeda dari kubah tunggal yang sering digunakan pada masjid-masjid modern.

Atap bertingkat merupakan salah satu bentuk yang berkembang dalam arsitektur masjid tradisional di sejumlah daerah Indonesia. Di Minangkabau, bentuk atap bangunan tradisional memiliki hubungan dengan konstruksi rumah gadang yang menggunakan susunan bidang atap dan ujung melengkung. Pada Masjid Raya Rao-Rao, pengaruh bentuk lokal tersebut terlihat melalui komposisi atap yang disusun secara bertingkat.

Penggunaan bentuk atap seperti ini juga memperlihatkan proses penyesuaian arsitektur Islam dengan lingkungan budaya setempat. Masjid tidak harus mengikuti satu bentuk bangunan tertentu dari luar daerah. Masyarakat dapat menggunakan pengetahuan pertukangan dan bentuk bangunan yang telah dikenal, kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan ruang ibadah.

Selain atap, bentuk bangunan Masjid Raya Rao-Rao juga memperlihatkan penggunaan tiang dan pembagian ruang yang mendukung kegiatan jamaah. Bagian dalamnya disusun untuk menampung aktivitas salat, sedangkan unsur dekoratif ditempatkan pada beberapa bagian bangunan. Perpaduan tersebut membuat masjid memiliki karakter tersendiri tanpa meninggalkan fungsi utamanya sebagai tempat ibadah.

Pengaruh Timur Tengah dan Eropa pada Bangunan.

Keunikan Masjid Raya Rao-Rao juga terlihat dari unsur arsitektur yang memperlihatkan pengaruh luar. Pada awal abad ke-20, hubungan masyarakat Minangkabau dengan kawasan lain semakin terbuka melalui perdagangan, pendidikan agama, dan perjalanan orang-orang Minang ke luar negeri. Pertukaran pengetahuan tersebut turut memengaruhi bentuk bangunan keagamaan.

Pengaruh Timur Tengah dapat dilihat melalui penggunaan unsur dekoratif Islam pada bangunan. Bentuk lengkung pada bagian tertentu serta ornamen geometris dan floral merupakan bagian dari ragam hias yang banyak digunakan dalam arsitektur Islam. Unsur tersebut hadir berdampingan dengan bentuk atap lokal sehingga menghasilkan tampilan yang berbeda dari rumah gadang maupun masjid bergaya Timur Tengah secara utuh.

Sementara itu, pengaruh Eropa terlihat pada penggunaan elemen bangunan yang berkembang dalam teknik konstruksi modern pada masa tersebut. Penggunaan material dan detail tertentu memperlihatkan bahwa pembangunan masjid tidak hanya mengandalkan teknik pertukangan tradisional. Perkembangan teknologi bangunan pada masa kolonial turut memberi pengaruh terhadap cara masyarakat membangun fasilitas umum.

Perpaduan berbagai unsur tersebut tidak berarti Masjid Raya Rao-Rao menyalin satu gaya arsitektur secara keseluruhan. Bangunan ini justru memperlihatkan proses pertemuan beberapa pengetahuan arsitektur yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat nagari. Bentuk lokal tetap menjadi bagian penting, sementara pengaruh luar hadir melalui sejumlah detail bangunan.

Masjid dalam Kehidupan Masyarakat Rao-Rao.

Masjid Raya Rao-Rao tidak hanya memiliki nilai dari segi bentuk bangunan. Sejak awal keberadaannya, masjid menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Nagari Rao-Rao. Kegiatan salat berjamaah, pengajian, pendidikan agama, dan peringatan hari besar Islam menjadikan bangunan ini memiliki fungsi sosial yang dekat dengan kehidupan warga.

Dalam tradisi masyarakat Minangkabau, masjid dan surau memiliki kedudukan penting dalam pendidikan agama. Anak-anak belajar membaca Al-Qur'an, sementara orang dewasa mengikuti pengajian dan kegiatan keagamaan. Masjid juga menjadi tempat masyarakat berkumpul ketika ada kegiatan yang melibatkan banyak warga.

Kehidupan keagamaan di Nagari Rao-Rao tidak dapat dilepaskan dari hubungan antara adat dan Islam yang berkembang dalam masyarakat Minangkabau. Prinsip adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah menjadi landasan yang dikenal dalam kehidupan adat Minangkabau. Masjid menjadi salah satu ruang tempat masyarakat menjalankan ajaran agama sekaligus membangun hubungan sosial di lingkungan nagari.

Keberadaan Masjid Raya Rao-Rao hingga sekarang juga memperlihatkan pentingnya pemeliharaan bangunan bersejarah. Perawatan diperlukan agar unsur arsitektur lama tetap dapat dikenali, terutama bagian yang menggunakan material dan teknik pembangunan dari masa awal pendiriannya. Perubahan atau renovasi bangunan perlu memperhatikan karakter aslinya agar nilai sejarah dan arsitekturnya tidak hilang.

Masjid Raya Rao-Rao memperlihatkan bagaimana masyarakat Minangkabau mengembangkan bangunan keagamaan melalui perpaduan pengetahuan lokal dan pengaruh dari luar. Atap bertingkat, ragam hias Islam, serta unsur konstruksi yang berkembang pada awal abad ke-20 menjadikan masjid ini memiliki karakter arsitektur tersendiri. Di Nagari Rao-Rao, bangunan tersebut tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat sekaligus menyimpan sejarah perkembangan Islam dan arsitektur di Kabupaten Tanah Datar (REDAKSI).

Kamis, November 05, 2026

Pemda Dorong Peserta BPJS Sampai UHC, Agar tidak Menunggu 14 Hari

Suasana Rapat Kordinasi antara Pemerintah Daerah kabupaten Sekadau, BPJS serta pihak-pihak Perusahaan dan swasta lainnya,. dihadiri oleh wakil Bupati Sekadau, Kamis, (05/11/2026) di ruang rapat kantor wakil Bupati Sekadau.
SEKADAU-FAKTAPAGI.COM. Wakil Bupati Sekadau Subandrio,SH.MH membuka secara resmi kegiatan Rapat Kordinasi (Rakor) antara Pemerintah Daerah, BPJS dan Perusahaan. Rakor tersebut untuk membahas cakupan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di kabupaten Sekadau, karena saat program tersebut selalu dimonitor secara cermat oleh Pemerintah Pusat.Rapat dipandu oleh kepala bagian Ekonomi dan Sumberdaya Alam Kosmas,Kamis (05/11/2026) di ruang rapat kantor wakil Bupati Sekadau.

Dalam sambutannya,mantan ketua KPU dua periode mengatakan, Pemerintah Daerah kabupaten Sekadau sudah berupaya agar semua masyarakat Sekadau bisa 98 persen aktif dan Universal Health Coverage (UHC) dalam 

artian bahwa cakupan Kesehatan Semesta yaitu sistem penjaminan kesehatan yang memastikan seluruh penduduk mendapatkan akses adil terhadap layanan kesehatan bermutu (promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif) tanpa mengalami kesulitan.

Upaya yang dilakukan tersebut adalah tahun 2024 pernah dilakukan Rakor yang sama seperti sekarang,hanya saja waktu itu tidak tindaklanjut.

" Habis Rakor sudah berhenti tidak ada tindaklanjuti dari pihak terkait,.nah sekarang kita lakukan lagi Rakor seperti, tujuan agar program ını betul bisa dirasakan oleh masyarakat," katanya.

Selain itu kata dia, Pemerintah Daerah sudah mengupayakan dana dari Pajak rokok untuk JKN, DBH Sawit semuanya kita dorong untuk JKN, agar bisa 98 persen.

Jika UHC maka salah satu keuntungan adalah, jika daftar BPJS tidak harus menunggu 14 hari baru bisa berobat ke rumah sakit. Karena jika belum UHC,

bagi yang baru daftar harus 14 baru berfungsi. Persoalan kalau menunggu 14 hari banyak warga yang bertanya kenapa harus 14 hari.

"Masalah ini sudah pernah dibicarakan tahun 2024, namun tidak ada kelanjutan, begitu habis rapat habis juga tidak berlanjut,"ujarnya.

"Makanya setelah Rakor ını hari ını (Kamis kemarin red) harus ada tindak lanjut,"tutupnya.

Sementara itu kepala Cabang BPJS Sintang Erika Verayanti Lumban Gaol dalam sambutannya mengatakan, bahwa program donasi JKN merupakan program yang melibatkan partisipasi masyarakat secara perorangan atau badan usaha atau lembaga lain yang bertujuan mewujudkan kepedulian kepada masyarakat dilingkungan melalui kontribusi pendaftaran keluarga yang membutuhkan uluran tangan kita untuk didaftarkan menjadi peserta JKN atau untuk membantu pembayaran tunggakan iuran peserta JKN.

Dikatakan dia, dasar hukum progam Donasi adakah UU nomor 24 tahun 2011 dan Perpres 82 tahun 2018 serta Perpres nomor 64 tahun 2020.

"Kerjasama dalam penyelenggaraan program Jaminan sosial ini termasuk kerjasama dengan instansi Pemerintah Pusat dan  Daerah, BUMN, BUMD,Faskes, Pemberi Kerja serta pihak lain yang akan memberikan bantuan iuran," paparnya.

Ada beberapa pola program Donasi kata lagi, donasi Perorangan, Donasi Badan Usaha, serta Badan Hukum lainnya.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan pemaparan dari tim BPJS kantor Cabang Sintang.

Hadir pada acara tersebut, Kadis Sosial Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak kabupaten Sekadau Martinus Ridi, Kadis Perindustrian dan Perdagangan kabupaten Sekadau Novita, Kabag Ekonomi dan SDA Kosmas, beberapa instansi terkait lainnya serta sejumlah pihak perusahaan dan undangan lainnya (tar/man).


Melalui Dinsos PP Dan PA Pemda Sekadau Salurkan Bantuan Dampak Karhutla

 

Martinus Ridi.
SEKADAU-FAKTAPAGI.COM.Pemerintah Daerah Kabupaten Sekadau melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan (PP) dan Perlindungan Anak (PA) Kabupaten Sekadau menyalurkan bantuan Sembilan Bahan Pokok (Sembako)dan Sandang kepada warga yang terdampak Karhutla di Wilayah kabupaten Sekadau. Kegiatan ını sebagai tindaklanjut instruksi Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat,Rabu (04/11/2026) kemarin.

Ditemui usai Paripurna Martinus Ridi Kadis PP dan PP mengatakan, bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menghadirkan bantuan kepada Kabupaten Pemerintah Kabupaten Sekadau untuk disalurkan kepada warga yang terdampak Karhutla.

Yang dimaksud dengan masyarakat yang terdampak.adalah masyarakat yang lahannya terbakar bukan ladangnya yang dibakar. Lahan terbakar yang dimaksud adalah dari api yang merambat dari lahan lainnya.

"Mereka lah yang dibantu dengan beras 5 kg, minyak goreng, gula, ikan sarden kaleng, ada juga bantuan sandang berupa sarung, selimut dan handuk,"terangnya.

Untuk itu Pemerintah Provinsi menyalurkan bantuan sebanyak 250 paket, hanya saja saat ını bantuan belum disalurkan semua. Sambil menunggu pihak desa untuk mendata saiap saja warga yang benar-benar terdampak.

Saat ini kata dia, kondisi cuaca sudah berbalik, artinya dengan kondisi cuaca seperti ini kebakaran hutan tidak mungkin ada lagi.

"Jika ada daerah yang mengalami kejadian serupa, silahkan melaporkan kepada kami secara berjenjang, dari desa ke kecamatan, jika sudah ada data di kecamatan baru kami rekap dan diberikan bantuan,” tukasnya.

Kita lebih selektif sekali untuk menentukan siapa yang layak dapat, karena dengan jumlah paket yang terbatas seperti ini, saat ını kitabsudah siapkan 100 paket lagi. Jumlah ini kita siapkan jika ada laporan dari desa yang warganya terdampak kebakaran lahan.

"Hanya saja kita tetap minta laporan tersebut secara berjenjang agar lebih valid dan benar-benar tepat sasaran," katanya (tar/man).


Wabup Ingatkan, Manfaatkan Lahan Tidur Untuk Kemajuan Ekonomi

 

Subandrio, SH.MH.
SEKADAU-FAKTAPAGI.COM.Wakil Bupati Sekadau Subandrio,SH.MH kembali mengingatkan kepada masyarakat petani di kabupaten Sekadau untuk selalu mengalahkan sektor Pertanian demi memperkuat pondasi ekonomi di kabupaten Sekadau. Pemerintah kata dia, selalu mendorong melalui program unggulan yakni IP3K agar petani bisa memanfaatkan lahan tidur untuk menjadi lahan produktif.

"Dorongan Pemerintah Daerah bukan hanya isapan jempol belaka,karena kesungguhan Pemerintah dalam mengerjakan sektor pertanian ditunjukan dengan membagikan bibit kelapa Sawit secara gratis melalui keok tani," katanya kepada media ını beberapa waktu lalu.

Pemerintah kata dia, memahami keong masyarakat,maka dari itu meskipun saat ını Pemerintah Pusat melakukan efesiensi terhadap anggaran,. namun komitmen Pemerintah terhadap program IP3K tetap dilanjutkan. Hal ını ditunjukkan beberapa waktu lalu bahwa Bupati Sekadau telah melaunching pembagian bibit kelapa Sawit secara gratis.

Dengan begitu, semua petani bisa memiliki peluang untuk memanfaatkan lahan tidur menjadi lahan produktif. Menurut dia, pemanfaatan lahan kosong tidak hanya dengan menanam Kelapa Sawit,tapi komoditi lain juga bisa di tanam,misalnya Cocoa,Palawija dan Jagung.

"Semua komoditi ını memilih pangsa pasar yang baik,"katanya.

Ia juga mengingatkan agar ketika membuat lahan sebaiknya hindari dengan cara membakar, karena cara ini memang tidak diperbolehkan, kecuali mengikuti aturan yang ada.

"Banyak cara lain yang elegan untuk membuka lahan,"ingatnya (tar/man).


Rabu, November 04, 2026

Sampaikan PU, Simak Inı Saran Dan Masukkan Fraksi

Suasana rapat paripurna penyampaian PU fraksi terhadap nota Pengantar APBD tahun anggaran 2027, Rabu (04/11/2026) di ruang rapat kantor DRPD kabupaten Sekadau jalan Merdeka Timur Desa Bokak Sebubum kecamatan Sekadau Hilir.
SEKADAU-FAKTAPAGI.COM.Rapat Paripurna Ke 2 Masa Persidangan ke 1 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sekadau dengan agenda Pemandangan Umum (PU) fraksi terhadap Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Angaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Sekadau Tahun Anggaran 2027. Paripurna tersebut dipimpin oleh Handi wakil ketua DPRD didampingi ketua dan wakil ketua DPRD, Rabu (04/11/2026) di ruang rapat kantor DPRD kabupaten Sekadau jalan Merdeka Timur Desa Bokak Sebubum kecamatan Sekadau Hilir.

Dalam sambutan pembukaan Handi mengatakan, bahwa agenda rapat hari ini adalah penyampaian Pemandangan Umum fraksi terhadap Nota Pengantar APBD oleh Bupati Sekadau terkait Raperda tentang APBD Tahun Anggaran 2027 pada tanggal 29 Oktober 2026 lalu.

Dari beberapa fraksi yang hadir Partai Golkar yang mendapatkan giliran pertama untuk menyampaikan PU-nya yang dibaca oleh Chandra Dawi,

fraksi ini menyarankan, agar APBD Kabupaten Sekadau TA 2027 yang diperkirakan berjumlah Rp 819,99 miliar menjadi perhatian bersama. 

Fraksi ını menyarankan, Pemerintah Daerah untuk mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tanpa membebani masyarakat secara berlebihan.

"Dengan  tetap memperhatikan pelayanan dasar terutama akses pendidikan dan kesehatan yang diperlukan masyarakat," katanya.

Fraksi Golkar mendukung kebijakan Pemerintah Pusat mengalihkan pembiayaan P3K melalui APBN.

Sementara itu giliran selanjutnya adalah fraksi PDI-P yang dibacakan oleh Selpanus Usel, dalam PU-nya fraksi ını mengingatkan agar pengalokasian anggaran tidak lagi dibagi merata pada Tahun Anggaran 2027 maka kurangi belanja daerah yang bersifat konsumtif, Pemerintah terjebak dalam membiayai birokrasi bukan untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat. 

Fraksi ini menyarankan, agar kedepannya Pemerintah Daerah harus melakukan penataan pasar dan mengatasi kemacetan di pasar tradisional Sekadau.

Fraksi juga menyarankan agar Pemerintah Daerah lebih mengutamakan pembangunan akses vital di pedesaan, seperti akses jalan di kilometer 23  eks Jalan Kayu Lapis karena ada Puskesmas di wilayah tersebut.

Jika melihat Pendapatan Asli Daerah hanya ditargetkan sebesar Rp112,60 miliar atau 13,73% dari total pendapatan daerah perlu adanya keterbukaan eksekutif tentang belanja operasional dinas terkait, dan mempertanyakan dana Rp5,5 miliar, yang dialokasikan untuk penyertaan modal Pemerintah Daerah ke PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Barat,sementara jalan rusak terabaikan.

Sementara itu giliran selanjutnya ada fraksi Partai Demokrat disampaikan Atanasius Jalol. Fraksi mendorong PAD sebagai modal awal pembangunan daerah Bumi Lawang Kuari, serta mendukung adanya rencana untuk tidak mengalokasikan anggaran untuk P3K tenaga pendidikan dan kesehatan melalui APBN.

Sementara itu selanjutnya adalah giliran fraksi Partai Gerindra yang dibacakan Yosep. Fraksi ini mendukung gaji dan tunjangan P3K diserahkan kepada Pemerintah Pusat melalui APBN. 

Fraksi ini menyarankan agar Pemerintah Daerah untuk terus melakukan  koordinasi dengan Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Pusat guna mengatasi terhambatnya pembangunan di daerah.

Semetara itu ditempat yang sama giliran fraksi Partai Amanat Nasional (PAN)  yang dibacakan oleh Helcosoni. Fraksi ini menyarankan agar Pemda untuk terus mengoptimalkan Pendapatan Daerah.

Fraksi ını juga menyarankan agar Pemda terus meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi terkait dana transfer ke daerah,dan diharapkan supaya Pemerintah Daerah untuk terus memperhatikan akses antar kecamatan dan desa juga akses pendidikan di daerah pedalaman, serta pemerataan pelayanan kesehatan di pelosok desa.

Sementara itu giliran fraksi Persatuan yang dibacakan oleh Lorensius Ardi Wiranata. Fraksi ingin memastikan hasil sewaan HGB di terminal, perlu mengetahui total anggaran dari pusat untuk gaji dan tunjangan P3K di kabupaten Sekadau

Sementara itu giliran Fraksi Partai Nasdem yang dibacakan oleh Efa Fras, Fraksi ini meminta agar kebijakan fiskal dikelola dengan hati-hati, fraksi kami ingin terus mendorong agar Pemerintah Daerah untuk terus berupaya menggali sumber Pendapatan Daerah.

"Tapi tidak menekan masyarakat dan menambah beban daya beli masyarakat," sarannya.

Semua saran ataupun masukan yang disampaikan oleh fraksi DPRD kabupaten Sekadau terkait APBD Kabupaten Sekadau TA 2027 yang diperkirakan berjumlah Rp 819,99 miliar, angka ini menurun dari tahun sebelumnya dengan nominal Rp19,90 miliar atau 2,43% dibandingkan tahun 2026, yaitu sebesar Rp 839,14 miliar. Sedangkan, Pendapatan Asli Daerah ditargetkan sebesar Rp112,60 miliar atau 13,73% dari total pendapatan daerah

Hadir Ketua DPRD kabupaten Sekadau Hermanto, Sekretaris Daerah Kabupaten Sekadau Mohammad Isa, serta 17 Anggota DPRD kabupaten Sekadau, Plh Sekretaris DPRD kabupaten Sekadau Handayani, Sejumlah Kepala SKPD dan OPD di lingkup Pemda Sekadau (tar/man).

Sijobang di Lima Puluh Kota Menyampaikan Kisah Lama Lewat Dendang dan Alat Musik Oleh: Mutia Fadillah

 

Permainan seni tutur tradisional kabupaten Lima Puluh Kota.

SUMATERA BARAT-FAKTAPAGI.COM.Sijobang merupakan seni tutur tradisional yang berkembang di wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Kesenian ini menyampaikan cerita melalui perpaduan tuturan, dendang, dan iringan alat musik. Seorang tukang sijobang membawakan kisah secara lisan dengan pola penyampaian yang memiliki irama tertentu. Cerita yang disampaikan dapat berlangsung panjang, sehingga pertunjukan Sijobang membutuhkan kemampuan mengingat alur, mengolah suara, dan menjaga perhatian pendengar.

Sijobang dikenal sebagai salah satu bentuk tradisi lisan masyarakat Minangkabau, khususnya di kawasan Luhak Lima Puluh Kota. Cerita yang dibawakan tidak disampaikan seperti percakapan biasa. Penutur menggunakan bahasa dan gaya bertutur khas, dengan bagian-bagian cerita yang dilagukan. Perpaduan antara cerita dan musik membuat Sijobang berada di antara seni bercerita dan seni pertunjukan.

Sijobang sebagai Seni Tutur di Lima Puluh Kota.

Sijobang tumbuh dalam lingkungan masyarakat Minangkabau di Kabupaten Lima Puluh Kota. Tradisi ini memperlihatkan cara masyarakat menyampaikan cerita melalui kemampuan seorang penutur. Tukang sijobang menjadi tokoh utama dalam pertunjukan karena ia bertugas menghidupkan cerita, mengatur irama tuturan, dan membawakan berbagai bagian kisah kepada pendengar.

Dalam tradisi Sijobang, cerita disampaikan secara lisan dan memiliki alur yang perlu dijaga. Penutur harus menguasai rangkaian peristiwa, nama tokoh, serta hubungan antar tokoh di dalam cerita. Kemampuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan hafalan. Tukang sijobang juga perlu mengatur intonasi dan tempo agar bagian cerita yang dibawakan dapat diikuti oleh penonton.

Salah satu cerita yang dikenal dalam tradisi Sijobang adalah kisah Anggun Nan Tongga. Cerita ini juga dikenal dalam khazanah sastra lisan Minangkabau dengan nama Anggun Nan Tongga Magek Jabang. Kisah tersebut berisi perjalanan tokoh Anggun Nan Tongga dan berbagai peristiwa yang berkaitan dengan kehidupan keluarga, hubungan sosial, serta petualangan. Dalam pertunjukan Sijobang, cerita seperti ini disampaikan melalui tuturan yang berirama.

Keberadaan cerita Anggun Nan Tongga memperlihatkan hubungan Sijobang dengan tradisi kaba Minangkabau. Kaba merupakan bentuk cerita prosa lisan yang berkembang dalam masyarakat Minangkabau. Ceritanya dapat memuat persoalan keluarga, adat, kepahlawanan, perjalanan, hingga hubungan antar manusia. Dalam Sijobang, kisah tersebut memperoleh bentuk penyajian melalui suara penutur dan iringan musik.

Dendang dan Alat Musik dalam Pertunjukan.

Ciri penting Sijobang terletak pada cara cerita dibawakan. Tukang sijobang tidak terus-menerus berbicara dengan intonasi percakapan. Ada bagian yang disampaikan melalui dendang atau tuturan bernada. Perubahan antara bagian cerita yang dituturkan dan bagian yang dilagukan membentuk irama pertunjukan.

Alat musik berfungsi mengiringi penyampaian cerita dan membantu membangun suasana. Dalam sejumlah penyajian Sijobang, alat musik yang dikenal sebagai pengiring adalah saluang. Instrumen tiup dari bambu ini juga digunakan dalam berbagai kesenian Minangkabau, terutama tradisi dendang. Suara saluang memberikan ruang bagi penutur untuk mengatur alur penyampaian dan menghadirkan suasana sesuai bagian cerita.

Hubungan antara tukang sijobang dan alat musik pengiring membutuhkan kesesuaian tempo. Penutur harus mengetahui kapan menyampaikan cerita dengan tuturan biasa, kapan memasuki bagian dendang, dan bagaimana menyesuaikan suara dengan iringan. Karena itu, pertunjukan Sijobang memerlukan keterampilan yang tidak dapat diperoleh hanya dengan membaca naskah cerita.

Peran alat musik dalam Sijobang juga perlu dipahami sesuai bentuk pertunjukannya. Susunan pengiring dapat berbeda menurut kebiasaan seniman dan lingkungan tempat tradisi itu dipelajari. Tidak tepat jika seluruh pertunjukan Sijobang dianggap selalu menggunakan susunan instrumen yang sama. Hal yang menonjol adalah hubungan antara cerita lisan, suara penutur, dan iringan musik yang menyertainya.

Pewarisan Sijobang dan Perubahan Ruang Pertunjukan.

Kemampuan menjadi tukang sijobang biasanya diperoleh melalui proses belajar dan pengalaman mendengarkan pertunjukan. Seseorang perlu mengenal cerita, menguasai cara bertutur, serta memahami pola dendang yang digunakan. Proses pewarisan seperti ini membuat hubungan antara seniman senior dan generasi penerus memiliki peran penting dalam keberlanjutan tradisi Sijobang di Lima Puluh Kota.

Tradisi lisan seperti Sijobang juga menyimpan pengetahuan tentang bahasa dan cara masyarakat membangun cerita. Pilihan kata, ungkapan, nama tokoh, serta susunan peristiwa memperlihatkan kekayaan bahasa Minangkabau. Ketika cerita dibawakan, penonton dapat mendengar bentuk bahasa yang mungkin jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Perubahan ruang pertunjukan turut memengaruhi cara masyarakat mengenal Sijobang. Jika sebelumnya kesenian lisan banyak bergantung pada pertemuan langsung antara penutur dan pendengar, kini dokumentasi audio maupun video dapat membantu memperkenalkan bentuk pertunjukan kepada khalayak yang lebih luas. Rekaman juga berpotensi menjadi bahan belajar bagi generasi muda yang ingin memahami cara bertutur dan pola dendang.

Meski demikian, dokumentasi tidak sepenuhnya menggantikan pengalaman menyaksikan pertunjukan secara langsung. Dalam pertemuan langsung, pendengar dapat mengikuti perubahan suara tukang sijobang, mendengar iringan saluang, dan merasakan hubungan antara penutur dengan orang-orang yang menyimak cerita. Unsur interaksi tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan seni tutur.

Sijobang memperlihatkan bahwa cerita dalam masyarakat Minangkabau dapat disampaikan melalui perpaduan kata, suara, dan musik. Di Lima Puluh Kota, peran tukang sijobang tetap menjadi pusat pertunjukan karena melalui kemampuan merekalah kisah seperti Anggun Nan Tongga dapat disampaikan kepada pendengar. Selama pengetahuan tentang cerita dan cara membawakannya terus dipelajari, tradisi seni tutur ini masih memiliki ruang untuk dikenal oleh generasi berikutnya (REDAKSI).